Selasa, 07 April 2015

Berani Tampil

Satu hal yang saya heran dari anak kedua saya Yasser: saat duduk di kelas 5 gini..bakat-bakatnya baru bermunculan. Dan itupun yang nemu bukan saya, tapi guru-gurunya! hehe...
Yang pertama, sekolah mengutus dia untuk tanding catur antar SD se kecamatan. Itu pun dipilih karena setelah dia mengalahkan kawan-kawannya plus gurunya satu sekolah. Sayangnya pas tanding dengan anak SD lain, dia kalah. Kata Yasser, yang dia hadapi pertama adalah yang juara catur se-Bogor. Haiya.
Mengenai keahlian dia bermain catur, sebenarnya saya udah tau sejak dia kelas 3 SD. Waktu itu wali kelasnya yang cerita pada suatu pertemuan. Saya bilang ayahnya keberatan. Karena konon catur itu tidak boleh (saya tidak berani bilang 'dilarang/diharamkan'). Saya ga tau alasannya. Mungkin-menurut logika saya- karena bermain catur itu menghabiskan waktu dan pikiran. Sehingga dikhawatirkan kita jadi lupa sholat dan lupa Tuhan utamanya.

Lalu, sekolah juga meminta dia lebih giat dan ambil kelas khusus berlatih bulutangkis. Karena dilihatnya Yasser mahir dan bisa mengalahkan rekan-rekannya satu sekolah. Kalo yang ini, saya sudah lama tau. Dulu saya sering bermain bulutangkis dengannya. Saya sempat berniat memasukannya ke satu club bulutangkis cilik. Tapi Yasser menolak. Karena waktu berlatih - yang hari Sabtu - bertabrakan dengan jam dia main PS atau komputer. Heuh...

Nah, yang terakhir: dia bersama seorang temannya ditugaskan mewakili sekolah untuk lomba pantomim dalam pekan kreatifitas siswa SD se-Kecamatan. Aha..pantomim? ini baru saya kaget. Apa mungkin Yasser berani malu tampil di muka umum, plus dengan muka cemong? Tapi Yasser menjawab yakin "beranilah..kenapa engga?" Jujur saya seneng banget dengan modal PD dia. Bermain pantomim memerlukan modal keberanian. 

Satu sisi, sebagai konsekuensi dari keikutsertaaan lomba pantomim, sekolah harus meng-hire guru pantomim khusus dari luar. Dan -sesuai pembicaraan empat mata dengan Kepsek di SD Yasser- setiap ortu murid yang ikut pantomim diminta menyumbang 1 juta. Jadi gini: total biaya 3 juta dibagi 3: Sekolah, yasser dan temennya masing-masing 1 juta. Agak nyesek. Rasanya aneh juga, kenapa siswa dibebani biaya? kan dia ga minta ditunjuk. Begimana kalo yang ditunjuk anak yang ga mampu? Ya sudahlah, demi melihat semangat Yasser yang rajin berlatih, kugelontorkan dana 1 juta. Eh...belakangan ada tambahan 400 ribu. Kata Yasser buat kostum dan make up

di make up dulu..

Pas hari H lomba, dengan senang hati aku menemani Yasser dari awal -pas di-make up- sampe akhir lomba. O'iya..saya belum pernah lihat Yasser latihan. Jadi saat lomba itulah pertama kalinya saya melihat Yasser berpantomim. 

Mereka dapet urutan ke-5. Saya perhatikan dari no 1 sampe 4..-menurut saya- tidak ada yang bagus, baik gerakan maupun isi cerita pantomim. Nah, pas Yasser tampil, saya bener2 surprised dengan gerakannya yang kompak, lentur dan jenaka. Pas betul sekolah memasangkan Yasser dengan temennya yang bernama Yusron. Fisik mereka sama. Dan kata gurunya, prilakunya pun sama-sama jahil.

nyaris kembar!
Selesai lomba kusalami Yasser dan temannya. Demikian pula guru2nya, mengucapkan selamat karena bisa tampil dengan bagus. Yasser nampak senang.
Kami tidak menunggu sampe semua lomba selesai untuk menanti pengumuman pemenang. Kami memilih pulang. Karena kupikir, jika pun menang, pasti gurunya yang mewakili. Sepanjang jalan Yasser bilang padaku 'kalo Yasser menang, mama beliin Yasser Hp ya?' saya tertawa. PD sekali anak ini.

Keesokan harinya, hasil lomba sudah keluar. Ternyata Yasser dan temennya tidak menang. Entah siapa yang menang. Kurasa pemenangnya adalah peserta kesekian yang tidak sempat kami tonton. Tentunya pemenang lebih segalanya daripada Yasser dan temennya. Tak apalah, yang penting aku senang karena anakku sudah berani tampil. Itu juara segalanya!


duo petruk  :D




Kamis, 26 Maret 2015

Antara Steak dan Bebek Goreng

Entah sudah keberapa kali Yasser merajuk pengen makan steak. Dari pas dia sakit demam panas dia merayu saya untuk mengajaknya makan steak. Saya bukan ga mau, tapi waktunya kapan? Senin-Sabtu dia sekolah, saya juga kerja. Terus Minggunya dia dan abangnya ikut hafidz quran seharian. Kata Yasser "Ah..alesan. Bilang aja Mama ga mau!" hehe...anak pintar.

Terus, ide makan steak itu kuajukan ke suami. Suami meng-oke kan untuk makan steak malam minggu. Maka, suatu malam minggu yang cerah, kami ber-5 pergi berburu steak.
Tadinya aku mengajukan makan steak di Waroeng Steak and Shake. Selain karena lokasinya deket banget sama rumah, juga harganya terkenal paling murah. Tapi pas kami mau parkir, penuh sekali.

Terus saya usul makan di Bogor Steak Sawojajar yang baru grand opening. Karena kulihat di spanduk depan resto tercantum harganya mulai dari Rp45 ribuan. Tapi suami meragukan rasanya.
Akhirnya kami berputar ke arah jalan pajajaran menuju jalan bangbarung yang terkenal dengan wisata kulinernya. Kami menuju Abuba Steak. Ini steak cabang Jakarta. Resto ini sudah terkenal cita rasa steaknya, dan tentu -harganya.

Begitu duduk, kami langsung disodori buku menu. Selembar demi selembar kami telusuri nama masakan berikut harganya. 
Demi melihat harganya yang hampir semua diatas 100 ribu, kedua anak lelakiku langsung terperangah (hehe..maklum, mereka sudah kubiasakan makan di resto sederhana dan kuajarkan bahwa cari uang itu susah!). 
Karena bingung milih menu (milih harga pastinya!) akhirnya suami kasih ide, supaya pilih steak lokal saja (harganya dibawah 100 ribu). Kemudian anak2 pun dengan senang hati memilih steak New Zealand yang paling murah diantara steak impor lain..(cuma Rp85 ribuan). Sementara saya pilih salmon steak. Bukan karena harganya lebih murah, tapi emang karena saya berniat kurangi makan daging sejak sering sakit kepala.

Setelah 1/2 jam kami menunggu. Hidangan yang kami pesan pun datang. Yasser sangat antusias sekali melihat kepulan asap dan bunyi cessss yang muncul dari pinggan panas steak. Kami menunggu sampe steak sedikit dingin, supaya lidah tidak melepuh. 
Tiba saat memotong daging.. kulihat Yasser dan Yassin memotong daging dengan susah payah. Haha.. beginilah risiko kalo pesen steak yang termurah. Daging kualitas paling rendah dan alot. Tapi anak2 ga peduli. Mereka tetap menikmati, meski dikunyahnya harus memakan waktu.

mulai bosan motong daging susah

Layaknya di film-film, harusnya steak dipotong dengan perlahan, penuh kesabaran dan anggun. Tapi yang ada di kami sebaliknya: anak2 lama2 engga sabar dengan tekstur daging yang keras. Yang terjadi selanjutnya: garpu dan pisau ditaro begitu saja. Aksi gigit daging pake tangan layaknya makan bebek goreng di warung tenda pun terjadi.
Saya ga tahan untuk tertawa. Begitu pun suami. Kedua anak lelaki saya dengan cueknya menggerogoti steak yang entah sudah seperti apa bentuknya. Suami pun nyeletuk : "hadeuh...tau gitu, mending tadi makan bebek goreng slamet aja. Kalian bisa puas gigit sampe ke tulang-tulangnya!"

aksi gigit terjadi  :D

Selesai makan dan suami bayar di kasir. Kami pun melenggang pulang. Di mobil kami tertawa-tawa sambil membayangkan ekspresi keheranan para pelayan nanti saat membereskan meja kami: kok bisa makan steak sampe bersih sampe ke tulang-tulangnya? 

ga tahan! wakaka...


Kami memang keluarga cuek dan apa adanya. Hahaa....







Rabu, 11 Februari 2015

Kami Kembali....

Ya ampun sudah setahun lewat, saya tidak mengisi blog ini. Penyakit malas dan sibuk menjangkiti seluruh tubuh ini. Hugh, baiklah, sudah saatnya saya bercerita tentang perkembangan anak-anak. Anak2 sedemikian cepat besar, rasanya baru kemarin mereka saya peluk dalam gendongan.



My eldest son : Yassin

Yassin sekarang sudah kelas VII alias kelas 2 SMP. Dia mulai puber. Ampun deh. Betapa repotnya menghadapi anak2 yang mulai puber, jatuh cinta pada lawan jenis. Perasaan dulu saya mulai puber pas SMA. Mungkin pengaruh makanan yang menyebabkan anak2 sekarang lebih cepat tumbuh secara fisik dan psikologis. Saya harus pasang mata - pasang telinga, supaya perkembangan Yassin tidak luput dari pengawasan.  Mulai dari deteksi percakapan hp, kiriman sms/bbm, sampe  ke situs apa saja yang dia buka di tablet/laptop. Parno-kah saya? sepertinya tidak. Wajar lah seorang ibu bersikap demikian, karena khawatir anaknya yang mulai ABG terjerembab ke hal2 negatif.


Si Penengah : Yasser

Banyak hal unik yang saya temukan dari anakku yang ini. Dia itu orangnya super santai. 
Pagi, sebelum berangkat sekolah, dia sempet2in nonton film kesukaannya: Spongebob. Aku benci setengah mati sama GlobalTV, yang menayangkan kartun pada jam anak mau sekolah dan juga sore pas sholat magrib terus waktunya anak belajar.
Sebenarnya saya bisa saja mematikan TV-nya dan menyembunyikan remote-nya. Tapi Yasser bakal mogok makan kalo itu kulakukan. Maka, saya pun mengalah membiarkannya nonton kartun kegemarannya, asal dia mau sarapan banyak.
Diantara anakku yang lain, Yasser juga malas belajar. Dia belajar karena disuruh. Sama halnya dengan makan, yang juga baru makan kalo disuruh. Mengenai malas makan ini, saya sampe heran, kok bisa2nya dia tahan tidak makan dari mulai pulang sekolah pas jumatan (jam 11.00-an) sampai saya tiba dari kantor (jam 17.30). Dia dengan setia menanti saya pulang untuk memberinya makan. Ampun!
Yang istimewa darinya: pertama, meski dia terkesan malas belajar, tapi kalo dia ada PR, dan kalo PR nya belum selesai dia kerjakan malam, maka besok paginya dia bangun pagi sekali sebelum azan subuh, cuma buat kerjakan PR. Kedua, anakku ini jarang - bahkan hampir engga pernah- Marah. Meskipun dia sering kumarahi dan kucubit karena gemas dengan 'kekesedan' nya. Dia termasuk kategori 'bebal'.
Terus, anakku satu ini ternyata punya kelebihan di bidang non science. Dia unggul dari teman2nya dalam tanding bulutangkis dan catur. Padahal dia ga pernah berlatih bulutangkis, apalagi catur. Terkait catur, katanya dia suka main mandiri di laptop/PC. Hm...ternyata ada sisi positif juga nge-game di komputer.


My lil'girl : Jasmine

Jasmine sekarang sudah sekolah di TK A. Dia sangat antusias sekali saat berangkat sekolah. Layaknya anak perempuan, dia pintar dandan. Haha..jadi inget, dulu saya sampai berjuang membuatnya jadi lebih 'girly'. Sekarang, tanpa saya ajari, dia more girly than me...:D
Dia bisa mengucir kuda dan mengepang rambutnya sendiri. Dia juga bisa memakai jilbab dengan membuat variasi sendiri. Turun dari siapa ya? mamanya pasti. Hihi..
Dan yang bikin saya senang luar biasa adalah, dia cepat sekali menghapal doa-doa dan bacaan Al-Qur'an. Saya paling suka saat dia melafalkan ayat kursi dengan lancarnya. Alhamdulilah..


That's all, ..I really love my kids just the way they are...
Everyday always give me a surprise.